PROSES
transformasi yang terus bergerak di Malaysia dengan memusatkan program pada
pelayanan rakyat dan pencapaian ekonomi tinggi, mendorong seluruh negara bagian
berlomba-lomba sebagai kawasan termaju. Melaka, merupakan negeri (negara
bagian) yang bergerak sangat cepat. Mereka menggerakkan potensi yang
dimilikinya : historis, geografis, demografis, untuk menarik investasi
sebesar-besarnya.
Ketua
Menteri Melaka, Datuk Seri Mohd Ali Rustam, sejak mencanangkan Melaka Maju
2010, tak pernah berhenti mengembangkan kreativitas dan inovasi. Termasuk dalam
hal memberikan pelayanan terhadap para investor asing. Lelaki bermisai itu
melakukan perubahan sistem penyelenggara pemerintahan yang berorientasi pada
pelayanan. Dia menyebutnya sebagai pro business government.
Dia beserta
seluruh pegawai pemerintah bertekad menjadikan Melaka sebagai ‘surga
investasi.’ Spirit pro business government itu sendiri terinspirasi oleh
sejarah Melaka, sebagai bandar perdagangan dunia terpenting sejak masa lalu.
Terutama karena posisi geografisnya berada di bibir Selat Melaka, yang sangat
padat di dunia, dan merupakan lintasan bisnis penting Timur – Barat.
Berbasis
budaya tujjar (trading culture) Melaka terus dibangun menjadi
sentra tujuan investasi, perdagangan, pariwisata, dan budaya. Termasuk sebagai
sentra konvensi internasional, baik yang digagas sendiri maupun yang memang
telah menjadi agenda internasional. Antara lain, Dunia Islam Dunia Melayu (DIDM).
Untuk
memenuhi hasrat dan komitmennya, itulah pemerintah negeri Melaka membangun (dan
memodernisasi) berbagai infrastruktur penting, seperti Port Klang yang terus
ditingkatkan kualitasnya untuk kembali ke posisi semula, sebagai hub port
yang kelak dapat menghubungkan langsung Tanjung Priok – Port Klang untuk
keperluan lalu lintas perdagangan laut ke Eropa. Melaka, dengan begitu, akan
menjadi pintu gerbang utama dalam bisnis global mendatang.
Negeri yang
didirikan PrameƧwara (Sultan Iskandar) yang diyakini keturunan Majapahit –
Sriwijaya, dan merupakan bandar penting yang dipujikan Ibnu Batutah, itu
bertekad menjadi ‘pelayan yang baik.’ Untuk itu Melaka memperkuat diri dengan
infrastruktur masa depan seperti Malaysia Cibercity dengan mendirikan Melaka
International Trade Center (MITC), yang terakses dengan Malaysia Domestic
Optical Fibre Submarine Cable System (antara Semenanjung – Sarawak – Sabah)
mereka juga merumuskan berbagai desain kebijakan yang ketat.
Keberuntungan
geografis yang melekat pada dirinya, memungkinkan Melaka memperoleh pasokan
listrik dari dua jejering yang kuat: Johor dan Negeri Sembilan. Kekuatan ini
yang membuat pemerintah Melaka berani menjamin: toleransi mati listrik hanya 1
menit saja. Para investor dapat komplain langsung dan beroleh kompensasi, bila
listrik mati di ambang batas toleransi tersebut.
Berbagai
infrastruktur lain memperkuat Melaka. Mulai dari lebuh raya (jalan tol)
semenanjung yang menghubungkan Kuala Lumpur – Johor (sekaligus merupakan jendela
informasi siapa saja untuk mengenal perkebunan dan kawasan perkampungan
Melaka), Kuala Lumpur International Airport (KLIA), The
North-South Expressway, serta tata ruang zona industri yang terencana (di
Rembia, Masjid Tanah, Serkam, Hicom, dan Taman Tasik Utama). Tak
terkecuali, suplai air yang terjaga.
Diperkuat
oleh stabilitas politik, peningkatan kualitas sumberdaya manusia, fasilitas
penduduk (rumah sakit dan sekolah, sentra belanja, dan permukiman) bertaraf
internasional, membuat Melaka menjadi tujuan investasi dari berbagai belahan
dunia. Tercatat, Amerika menjadi investor utama (RM4.738,94 juta),
disusul Jepang (RM1.005,11 juta), India,Taiwan, Belanda, Singapura, Perancis,
Jerman, Swizterland, Korea Selatan dan lainnya yang bergerak di industri
manufaktur.
Datuk Sri
Mohd Ali, bilang, semua bisa dicapai karena dia, seluruh pegawai, dan rakyat
Melaka berfikir sederhana saja: apa yang bisa dikerjakan hari ini, tak boleh
ditunda lagi. Bila Majapahit dan Sriwijaya bisa berjaya, apatah lagi Melaka kini.
|
-akarpadi.com-