Tampilkan postingan dengan label akarpadi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label akarpadi. Tampilkan semua postingan

Selasa, 08 Januari 2013

1 Menit Toleransi

PROSES transformasi yang terus bergerak di Malaysia dengan memusatkan program pada pelayanan rakyat dan pencapaian ekonomi tinggi, mendorong seluruh negara bagian berlomba-lomba sebagai kawasan termaju. Melaka, merupakan negeri (negara bagian) yang bergerak sangat cepat. Mereka menggerakkan potensi yang dimilikinya : historis, geografis, demografis, untuk menarik investasi sebesar-besarnya.
Ketua Menteri Melaka, Datuk Seri Mohd Ali Rustam, sejak mencanangkan Melaka Maju 2010, tak pernah berhenti mengembangkan kreativitas dan inovasi. Termasuk dalam hal memberikan pelayanan terhadap para investor asing. Lelaki bermisai itu melakukan perubahan sistem penyelenggara pemerintahan yang berorientasi pada pelayanan. Dia menyebutnya sebagai pro business government.
Dia beserta seluruh pegawai pemerintah bertekad menjadikan Melaka sebagai ‘surga investasi.’ Spirit pro business government itu sendiri terinspirasi oleh sejarah Melaka, sebagai bandar perdagangan dunia terpenting sejak masa lalu. Terutama karena posisi geografisnya berada di bibir Selat Melaka, yang sangat padat di dunia, dan merupakan lintasan bisnis penting Timur – Barat.
Berbasis budaya tujjar (trading culture) Melaka terus dibangun menjadi sentra tujuan investasi, perdagangan, pariwisata, dan budaya. Termasuk sebagai sentra konvensi internasional, baik yang digagas sendiri maupun yang memang telah menjadi agenda internasional. Antara lain, Dunia Islam Dunia Melayu (DIDM).
Untuk memenuhi hasrat dan komitmennya, itulah pemerintah negeri Melaka membangun (dan memodernisasi) berbagai infrastruktur penting, seperti Port Klang yang terus ditingkatkan kualitasnya untuk kembali ke posisi semula, sebagai hub port yang kelak dapat menghubungkan langsung Tanjung Priok – Port Klang untuk keperluan lalu lintas perdagangan laut ke Eropa. Melaka, dengan begitu, akan menjadi pintu gerbang utama dalam bisnis global mendatang.
Negeri yang didirikan PrameƧwara (Sultan Iskandar) yang diyakini keturunan Majapahit – Sriwijaya, dan merupakan  bandar penting yang dipujikan Ibnu Batutah, itu bertekad menjadi ‘pelayan yang baik.’ Untuk itu Melaka memperkuat diri dengan infrastruktur masa depan seperti Malaysia Cibercity dengan mendirikan Melaka International Trade Center (MITC), yang terakses dengan Malaysia Domestic Optical Fibre Submarine Cable System (antara Semenanjung – Sarawak – Sabah) mereka juga merumuskan berbagai desain kebijakan yang ketat.
Keberuntungan geografis yang melekat pada dirinya, memungkinkan Melaka memperoleh pasokan listrik dari dua jejering yang kuat: Johor dan Negeri Sembilan. Kekuatan ini yang membuat pemerintah Melaka berani menjamin: toleransi mati listrik hanya 1 menit saja. Para investor dapat komplain langsung dan beroleh kompensasi, bila listrik mati di ambang batas toleransi tersebut.
Berbagai infrastruktur lain memperkuat Melaka. Mulai dari lebuh raya (jalan tol) semenanjung yang menghubungkan Kuala Lumpur – Johor (sekaligus merupakan jendela informasi siapa saja untuk mengenal perkebunan dan kawasan perkampungan Melaka), Kuala Lumpur International Airport (KLIA),   The North-South Expressway, serta tata ruang zona industri yang terencana (di Rembia, Masjid Tanah, Serkam, Hicom, dan Taman Tasik Utama).  Tak terkecuali, suplai air  yang terjaga.
Diperkuat oleh stabilitas politik, peningkatan kualitas sumberdaya manusia, fasilitas penduduk (rumah sakit dan sekolah, sentra belanja, dan permukiman) bertaraf internasional, membuat Melaka menjadi tujuan investasi dari berbagai belahan dunia.  Tercatat, Amerika menjadi investor utama (RM4.738,94 juta), disusul Jepang (RM1.005,11 juta), India,Taiwan, Belanda, Singapura, Perancis, Jerman, Swizterland, Korea Selatan dan lainnya yang bergerak di industri manufaktur.

Datuk Sri Mohd Ali, bilang, semua bisa dicapai karena dia, seluruh pegawai, dan rakyat Melaka berfikir sederhana saja: apa yang bisa dikerjakan hari ini, tak boleh ditunda lagi. Bila Majapahit dan Sriwijaya bisa berjaya, apatah lagi Melaka kini. |

-akarpadi.com-